Thursday, 26 June 2014

Asal Usul Nenek Moyang Orang Jawa

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau diantara 13.000 pulau di Indonesia. Ia menjadi tempat berdomisili sebagian besar penduduk Indonesia.[1] Dalam kesehariannya, penduduk Jawa menggunakan empat bahasa yang berbeda. Penduduk asli ibukota Jakarta berbicara dengan dialek bahasa melayu yang disebut Melayu-Betawi. Di bagian tengah dan selatan Jawa barat memakai bahasa Sunda. sedangkan Jawa Timur bagian utara dan timur yang dihuni oleh imigran-imigran dari Madura, yang tetap mempertahankan bahasa mereka. Dan di bagian Jawa lainnya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasinya sehari-hari.[2]
Masyarakat Jawa atau lebih tepatnya suku bangsa Jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai dialeknya secara turun menurun.[3] Jawa dalam pembahasan ini lebih bernuansa nama etnis dari pada sekedar batasan geografi huniannya. Karena kenyataannya secara geografis penduduk pulau jawa tidak hanya terdiri atas suku Jawa saja, melainkan juga bebarapa suku diantaranya suku Sunda.[4]
Nenek moyang suku Jawa tidak berbeda dari suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang menempati Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sumatera dan Jawa yang disebut Daratan Sunda. Dari penggalian fosil-fosil di Pulau Jawa sekitar lembah Bengawan Solo, Jawa Tengah telah ditemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang diperkirakan sebagai manusia Indonesia tertua yang hidup sekitar satu juta tahun yang lalu dan fosil  yang lebih muda usianya yang disebut Homo Soloensis.[5]
Sedangkan tulisan kuno yang memberikan kejelasan tentang asal usul nenek moyang orang Jawa hanya dimulai sejak kedatangan aji saka. Namun terdapat keterangan mengenai keadaan geologi pulau Jawa dalam sebuah tulisan kuno hindu yang menyatakan  bahwa Nusa Kendang, nama pulau Jawa pada masa itu merupakan bagian dari India. Dan tanah yang sekarang dinamakan Kepulauan Nusantara, merupakan daratan yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia yang kemudian terputus dan tenggelan oleh air bah.[6]
Dalam Babad Kuno, ditemukan sejarah yang samar. Diceritakan bahwa Arjuna seorang raja dari Astina, yang merupakan sebuah kerajaan  yang terletak di Kling yang  membawa penduduk pertama ke Pulau Jawa. Pada masa itu pulau ini belum berpenghuni. Mereka kemudian mendirikan  sebuah koloni yang letaknya tidak disebutkan.[7]
Sejarah yang lebih jelas dapat ditemukan dari sebuah surat kuno yaitu Serat Asal Keraton Malang. Dalam surat tersebut diceritakan bahwa Raja Rum yang merupakan sultan dari negara Turki, tetapi dalam surat lainnya disebut sebagai raja dari Dekhan. Pada 450 tahun sebelum Masehi Raja tersebut mengirim penduduk pertama, namun penduduk tersebut sangat menderita karena gangguan binatang buas. Akibatnya, banyak dari penduduk baru tersebut yang kembali pulang ke negaranya.[8]
Dan pada 350 SM, Raja mengirim perpindahan penduduk yang kedua kali. Perpindahan ini dipimpin oleh Aji Keler yang membawa 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan yang berasal dari pantai Koromandel. Aji Keler menemukan Nusa Kendang dengan dataran tinggi yang ditutupi hutan lebat dan dihuni berbagai binatang buas sedangkan tanah datarnya ditumbuhi oleh tanaman yang dinamakan jawi. Karena jenis tanaman ini tumbuh dimana- mana maka ia menamakan tanah dimana ia mendarat dengan nama “Jawi”, yang kemudian berlaku untuk nama keseluruhan Pulau Jawa.[9]
Raja kemudian memerintahkan sang patih untuk mengirim perpindahan penduduk gelombang ketiga yang juga terdiri dari 20.000 laki dan 20.000 perempuan. Namun pada perpindahan gelombang ketiga ini telah dibekali peralatan membajak serta bekal hidup selama enam bulan untuk mencegah agar orang-orang tersebut tidak melarikan diri dan diangkatlah raja bagi mereka dengan nama Raja Kanna. Pada beberapa tempat di pantai di daerah Surabaya sekarang dan juga di Pulau Madura, di bangun desa-desa dengan nama Ngawu, Hawu Langit, Dewarawati, Mandaraka, Ngamarta dan Madura. Di desa-desa ini juga di angkat kepala-kepala atau pimpinannya. Tindakan tersebut ternyata membuat perpindahan penduduk gelombang ketiga berhasil. Akhirnya, mereka menyebar ke pedalaman yang terbuka dari pulau Jawa. Orang-orang dari gelombang ketiga ini mempunyai kepercayaan Animisme.[10]

[1] Ahmad Khalil, Islam Jawa Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa,  (Malang: Uin Malang Press, 2008),  Hal. 3
[2] Franz Mangnis dan Suseno SJ, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003),  Hal. 11
[3] Darori Amin, Islam Dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000),  Ha.l 3
[4] Mohammadd Damami, Makna Agama Dan Masyarakat,  (Yogyakarta: LEFSI, 2002), Hal. 11
[5] Darori Amin, Op.Cit,  Hal 3-4
[6] Capt  R. P. Suyono, Dunia Mistik Orang Jawa, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2007), hal. 5
[7] Ibid, Hal. 6
[8] Ibid
[9] Ibid, Hal. 6-7
[10] Ibid, Hal. 7

No comments:

Post a Comment