Thursday, 17 July 2014

Sinopsis Film Serial Mahadewa,Kisah Cinta antara Mahadewa Shiwa dengan Dewi Sati



Sinopsis Film Serial Mahadewa,Kisah Cinta antara Mahadewa Shiwa dengan Dewi Sati

Renungan Bhagavatam: Daksha Putra Brahma, Keangkuhan Seorang Prajapati



Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.
Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan……. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke “aku”an. Kesadaran dan ke “aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke “aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke “aku”an, keangkuhan……..
Daksha kemudian mengambil air di dengan telapak tangannya dan mengutuk, “Mahadewa ini adalah yang terburuk di antara semua dewa, dia tidak akan menerima bagian yajna seperti dewa yang lain.” Dan Daksha langsung pulang ke rumahnya. Para pengikut Mahadewa tersinggung dan Nandikeswara berkata, “Daksha ini orang bodoh, ia sangat angkuh dan melupakan Mahadewa. Sesungguhnya ia bernasib sial, ia jauh dari rahmat Tuhan. Ia tidak lebih baik dari binatang yang hidup hanya untuk kepuasan laparnya. Para resi yang setuju dengan kutukan Daksha akan menderita. Mereka akan mengalami siklus kelahiran dan kematian. Mereka akan disibukkan dengan urusan duniawi dan meninggalkan Tuhan. Mereka akan terlibat dalam banyak upacara agama, mereka akan kehilangan cinta mereka terhadap disiplin, tapa. Mereka akan menjadi peka terhadap bujukan pikiran dan juga terhadap ketidaktahuan sehingga mereka terlibat dalam hal-hal duniawi.”
Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk, “Aku mengutuk para pengikut Mahadewa, mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka akan menentang Veda dan tidak aktif dalam upacara yang ditentukan oleh Veda. Mereka menjadi kotor. Mereka berpakaian seperti Mahadewa, memakai perhiasan yang dibuat dari tulang.”……. Mahadewa merasa sedih dan segera meningglakan tempat upacara tersebut.
Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksa semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadewa, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sava. Semua brahmaresi, dewaresi, pitri dan dewa diundang pada upacara tersebut. Rupanya dalam diri Daksha masih ada perasaan dendam terhadap Mahadewa. Daksha tidak sadar bahwa dirinya semakin terikat kepada penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Daksha tidak tahu alasannya mengapa Mahadewa tidak berdiri dan menghormatinya. Daksha gelisah mengapa Mahadewa, sang menantu bertindak demikian. Oleh karena itu dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadewa.
Dalam buku “Tantra Yoga”, Anand Krishna, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Dalam tantra, kita mengenal istilah Klesha, yang berarti “kegelisahan”, “penderitaan”. Apa saja yang membuat manusia gelisah, menderita klesha. Dan menurut Tantra, ada lima penyebab klesha, yaitu: Pertama, Avidya atau ketidaktahuan. Kita tidak tahu bahwa api bisa membakar. Lalu memasukkan tangan ke dalam api. Maka tangan kita terbakar, luka. Dan kita pun menderita, gelisah. Kedua, Asmita atau ego, keangkuhan. Kita menganggap diri sudah hebat, sempurna. Selalu benar. Kemudian ada yang menegur, “Jangan sombonglah. Lihat tuh kesempurnaan ada di mana-mana. Bukan kamu saja yang hebat. Kebenaran pun bukan monopoli seseorang.” Ego kita terusik. Kita tidak bisa menerima kenyataan dan oleh karena itu, kita gelisah, menderita. Ketiga, Raga atau keterikatan. Sudah terlalu sering kita membicarakan keterikatan. Keterikatan pada apa saja, siapa saja hanya menghasilkan kegelisahan, penderitaan. Keempat, Dvesha. Yang satu ini agak sulit diterjemahkan. Dvesha berarti non affirmation. Tidak mengiyakan Keberadaan. Kebalikan sikap nrimo. Dvesha berati tidak mengalir bersama kehidupan. Menentang arus kehidupan. Menentang keberadaan. Dvesha berasal dari suku kata “Dvi” dwi, dualitas. Salah satu kamus Sanskerta-Inggris menerjemahkan dvesha sebagai “kebencian”. Bisa. Kendati bukan sekedar kebencian. Kebencian muncul dari penolakan. Kita tidak menyukai sesuatu, maka kita membencinya. Ada alasan untuk tidak menyukai. Dan alasan itu disebabkan oleh double vision, oleh mata batin yang “sakit”, sehingga “satu” tampak “dua”. Ada yang kehilangan pasangan, pacar, dan dia tidak bisa menerima kenyataan. Maka dia gelisah, menderita. Sikap menentang, menolak dan tidak menerima itulah Dvesha. Kelima, Abhinivesha, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai clinging to life. Ini salah. Seharusnya adalah clinging to body atau lebih tepat lagi clinging to body consciusness. Bila anda cling, berpegang teguh pada life atau kehidupan, anda tidak akan gelisah, tidak akan menderita, karena Kehidupan adalah Keberadaan. Berpegang teguh pada Kehidupan berarti menerima Kehidupan secara utuh. Menerima suka dan duka sebagai bunga-bunga Kehidupan. Demikian Anda akan selalu bahagia………
Sati mendengar upacara Yajna yang akan diselenggarakan ayahandanya minta ijin suami untuk menghadiri upacara tersebut, “Aku tahu Kau adalah Tuhan yang mendaur ulang alam semesta. Akan tetapi aku adalah seorang perempuan yang ingin datang ke upacara yang diadakan ayahandaku. Aku tahu Kau akan berkata bahwa kita tidak diundang. Akan tetapi bukankah orang baik akan datang walaupun dia tak diundang untuk datang ke rumah seseorang?
Mahadewa tersenyum dan berkata, “Orang selalu berubah, dia memang ayahmu, akan tetapi ayahmu menjadi sangat angkuh. Ia mabuk kekuasaan. Ayahmu memiliki kualitas agung dalam hal pengetahuan, tapa, kekayaan, keindahan badan, usia dan kelahiran mulia. Semua kualitas ini jika terdapat dalam orang yang baik akan menjadi berkah alam semesta. Bagaimana pun ayahmu telah menjadi sombong karena memiliki semua itu. Seseorang yang berkata bahwa aku pandit, terpelajar, aku tapasvi, pertapa, pemikiran seperti ini sudah membuat dia sombong. Dan, ayahmu tidak rela dengan kebesaran-Ku.”……… “Ayahmu lebih mencintai kau dibanding kepada saudari-saudarimu. Akan tetapi dia membenci diriku. Sehingga dia tidak akan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang seperti yang kau harapkan. Kamu mungkin belum tahu mengapa aku tidak berdiri kala ayahmu masuk ketempat upacara Yajna. Manakala seseorang berdiri dan melakukan namaskara, kedua tangan ditangkupkan kepada orang lain, maka di dalam hati orang tersebut berkata, Gusti dalam diriku sedang menyambut Gusti yang berada dalam dirimu. Dan Gusti dalam diriku adalah Gusti yang sama dengan yang ada dalam dirimu. Rasa hormat tidak diberikan kepada manusia, kepada tubuh yang dipakai manusia, tetapi kepada Gusti yang ada dalam diri setiap orang. Hanyalah ayahmu yang berpendapat bahwa mereka menghormati dirinya. Aku tidak bisa melakukan itu. Manakala manusia baik menemui orang lain yang penuh ego, maka ego tersebut seperti awan yang menutupi Gusti yang ada dalam dirinya. Itulah sebabnya aku tidak berdiri dan menghormatinya, agar dia menyadari kesalahannya yang dengan angkuh merasa orang menghormatinya dan bukan menghormati Gusti yang berada dalam dirinya.”…….. “Dulu , manakala ayahmu meremehkan aku dan berbicara tajam menghina aku di hadapan semua orang, dan aku tidak diberi bagianku dalam upacara tersebut, dia memang ayahmu akan tetapi dia adalah musuhku. Demikian pula para pengikutnya. Jika kamu mengabaikan perkataanku dan ingin datang ke upacara tersebut, kamu tidak akan disambut oleh mereka. Kamu bukan lagi anaknya, tetapi kamu adalah istri dari Mahadewa.”
Dalam diri sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memenangkan perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Tak seorang pun yang berani mengingatkan Daksa, dan tak seorang pun yang datang menyambut Sati. Hanya ibu dan sudari-saudarinya yang menyambutnya dengan pelukan. Daksha melakukan Yajna sebagai persembahan kepada Tuhan, akan tetapi dia tak sadar bahwa dia masih mempunyai rasa kemarahan dan keangkuhan terhadap Mahadewa. Rasa kemarahan dan keangkuhan adalah rasa bahwa dirinya besar, padahal melakukan persembahan mestinya dilakukan dengan tulus ikhlas dan menjadikan diri kita seperti seorang kawula di hadapan Majikan Agung.
Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita. Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa.
Demikian beberapa kutipan dari buku-buku Bapak Anand Krishna yang membangkitkan semangat seseorang untuk memberdayakan diri. Sayang pemahaman beliau sering disalahpahami. Silakan lihat…..

Sati sadar bahwa Yajna ini ditujukan untuk menghina Mahadewa. Dengan bibir gemetar menahan kemarahannya Sati berkata, “Seorang bodoh seperti ayahanda memusuhi Tuhan yang tak ada bandingnya di alam semesta ini. Hanya orang bodoh yang melakukan hal ini. Makin baik seseorang maka mereka mengabaikan kesalahan dan mempertimbangkan kebaikan orang lain. Perilaku ayahanda tidak mempengaruhi suamiku, akan tetapi aku tidak bisa menerima itu. Suamiku disebut Shiva, segala sesuatu yang murni, baik dan suci. Ayah membencinya karena ayah adalah asiva. Aku malu badanku ini berasal dari ayahanda penghina Shiva. Aku tidak ingin dikenal sebagai Dakshayani, putri Daksha di alam selanjutnya. Badan ini cukup lama dipakai diriku dan sekarang kulepaskan. Sati duduk dalam posisi yoga dan badannya mulai terbakar api yang dipanggilnya. Sati menjadi abu.
Para pengawal Sati menyerang Daksha, akan tetapi Bhrigu tidak ingin orang merusak upacara dan segera membaca mantra. Dan, dari api persembahan keluar makhluk yang menghalau para pengawal Sati. Resi Narada mendatangi Mahadewa dan menceritakan apa yang terjadi pada Sati. Mahadewa tidak terkejut karena dia telah tahu apa yang akan terjadi. Shiva kemudian mencabut rambutnya dan melemparkannya ke tanah dan rambut itu berubah wujud menjadi Virabhadra makhluk tinggi besar yang menyala-nyala. Ia mempunyai seribu lengan dan memakai kalung tengkorak seperti Shiva. Dia melakukan perintah Shiva untuk membunuh Daksha dan menghancurkan segalanya di sana. Bhrigu yang mengutuk pengikut Mahadewa dicabut kumisnya oleh Virabhadra. Pusan yang mengetawakan Shiva giginya semua lepas karena pukulan Virabhadra. Bhaga yang telah menghasut Daksa untuk mengabaikan Sati matanya dihancurkan. Daksha akan dipancung tetapi tidak bisa dan Virabhadra sadar bahwa hal tersebut terjadi karena Daksha sedang mengadakan Yajna. Maka kepala Daksha dilepas dengan tangannya dan dilemparkannya ke api sebagai persembahan. Setelah itu Yirabhadra dan pengawal Shiva kembali ke Kailasha.
Mereka yang selamat menceritakan bencana yang menimpa mereka kepada Brahma. Brahma dan Wisnu tidak hadir dalam acara Yajna karena mereka tidak akan hadir dalam upacara yang tidak dihadiri oleh Mahadewa. Brahma kemudian minta mereka supaya minta ampun kepada Mahadewa. Mahadewa telah diperlakukan secara tidak adil, dan Sati mati karena Daksha. Brahma berkata jika Shiva tetap marah dunia akan berakhir. Brahma kemudian mendatangi Shiva di Kailasha. Shiva berkata, “Aku tidak marah dengan mereka yang mengambil bagian dalam Yajna, aku hanya ingin menghukum Dakhsa. Ia harus diobati kesombongan dan keangkuhannya. Kata-kata kutukan Nandikeswara tak dapat dibatalkan. Daksha akan hidup lagi dengan kepala kambing. Pikiran Daksha akan dibersihkan dan yang terpisah akan utuh kembali.”
Mereka semua bersama Wisnu dan Brahma datang ketempat Yajna. Daksa mau berkata akan tetapi suaranya berhenti di kerongkongan. Air matanya mengalir bukan karena kepalanya sudah berganti dengan kepala kambing, akan tetapi dia ingat akan kematian Sati…….. Akhirnya Daksha bisa bicara dengan patah-patah, “Aku telah menghina-Mu dan dunia berpikir Engkau sudah menghukum aku untuk itu. Akan tetapi pada kenyataannya Engkau telah membersihkan pikiranku, Engkau sudah memberikan aku kelahiran baru. Aku sudah bisa menggunakan tubuhku dengan lebih baik. Aku mohon ampun kepada-Mu.”……… Yajna dilanjutkan dan ketiga dewa mengetuai upacara tersebut. Narayana juga berkenan menampakkan diri….. Kita bisa melihat secara simbolis bahwa kesalahan Daksha adalah keangkuhan disebabkan pemahaman pikirannya yang salah. Oleh karena itu, Mahadewa menghilangkan sifat keangkuhan Daksha, yang digambarkan dengan mengganti kepala yang angkuh dengan kepala kambing yang patuh……..
Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Sebagaimana seorang ahli pahat dapat mengubah kayu gelondongan menjadi sesuatu yang sangat berguna, begitu pula para bijak dapat mengubahmu menjadi pemimpin yang berguna, dan berperilaku sesuai dengan Tao. Apabila Anda polos dan masih gelondongan, seorang bijak dapat mengubah Anda menjadi pemimpin yang berguna. Metafor yang digunakan oleh Lao Tze: kayu gelondongan. Seorang ahli pahat tidak pernah menambah sesuatu. Yang dia lakukan hanyalah membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan, dan hasilnya adalah patung yang indah, peralatan rumah tangga yang berguna. Itu pula yang dilakukan oleh para bijak. Mereka tidak menambah sesuatu pada diri kita. Tidak diberikan jimat atau dibacakan mantra atau disuruh mengorbankan hewan. Mereka hanya membuang bagian-bagian yang tidak penting dalam diri kita. Mereka membuang naluri hewani yang ada dalam diri kita. Keangkuhan, ketamakan, keserakahan-semua itu yang dibuang. Dan lahirlah seorang insan yang baru, seorang pemimpin yang bertindak sesuai dengan hukum alam……..
Sumber:http://triwidodo.wordpress.com/2011/06/22/renungan-bhagavatam-daksha-putra-brahma-keangkuhan-seorang-prajapati/

Monday, 14 July 2014

TATA CARA SHALAT JENAZAH



Ketahuilah wahai saudaraku tercinta, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda,"Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga ikut menshalatkannya, maka dia mendapatkan satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga ikut mengantar ke kubur, maka mendapatkan dua qirath". Ditanyakan, "Apakah yang dimaksudkan dengan dua qirath itu? " Beliau menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." (HR. Muttafaq 'alaih)

Setelah kita mengetahui keutamaan yang besar ini, maka selayaknya bagi anda semua saudaraku yang tercinta, untuk mengetahui tata cara shalat Jenazah, sebagaimana yang diajarkan di dalam sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Tata Cara Menshalatkan Mayit

Imam berdiri tepat di bagian kepala mayit, jika jenazah adalah seorang laki-laki atau di bagian tengah badan (perut) jika jenazah seorang wanita. Kemudian makmum berdiri di belakangnya, sebagaimana dalam shalat yang lain, kemudian bertakbir sebanyak empat kali dengan rincian sebagai berikut:

§  Takbir yang pertama, yaitu takbiratul ihram, lalu mengucapkan ta'awudz dan basmalah tanpa membaca do'a istiftah, kemudian membaca surat al-Fatihah.
§  Takbir ke dua, lalu mengucapkan shalawat atas Nabi shallallahu’alaihi wasallam,


اَللَّهُمُّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبَرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
"Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan berikanlah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
§  Takbir yang ke tiga, lalu berdo'a untuk mayit dan untuk kaum muslimin dengan do'a yang ma'tsur (bersumber dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam) yakni:


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا, وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا, اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَّفَهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلُه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّ الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مَِنَ الدَّنَسِ وَابْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ اْلَقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
"Ya Allah ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang mati di antara kami, yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, anak-anak kecil di antara kami dan orang-orang yang sudah tua, yang laki laki di antara kami dan yang wanita. Ya Allah siapa saja yang Kauhidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dalam Islam, dan siapa saja yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkan dalam keadaan Iman. Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, peliharalah dia dan maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya. basuhlah dia dengan air, salju (es) dan air embun, dan sucikanlah ia dari dosa dan kesalahan sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari noda. Gantilah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya (di dunia) dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya, dan masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab api neraka, lapangkanlah ia dalam kuburnya dan berilah cahaya kepadanya di dalam kubur. Ya Allah janganlah Engkau halangi kami atas pahalanya, dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalnya".(HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Jika mayitnya seorang wanita, maka dengan menggunakan kalimat, Allahummaghfir la[ha], yakni menggunakan kata ganti untuk wanita, yaitu [ha].
Apabila mayit adalah seorang anak atau karena keguguran, maka mengucapkan,


اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذَخَرًا لِوَالِدَيْهِ وَشَفِيْعًا مُجَابًا اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَاعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ
"Ya Allah jadikanlah ia pendahuluan dan simpanan pahala bagi dua orang tuanya, pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya, ya Allah beratkanlah dengannya timbangan kedua orang tuanya, lipatkanlah pahala keduanya, dan kumpulkanlah ia bersama para pendahulu yang shalih dari kaum mukminin, dan jadikanlah ia dalam tanggungan Nabi Ibrahim ’alaihissallam, dan jagalah dia dengan rahmat-Mu dari adzab Neraka Jahim." (Lihat al-Mughni, Ibnu Qudamah, 4:433)
§  Takbir yang ke empat, lalu diam sejenak, setelahnya selanjutnya mengucapkan satu kali ke arah kanan, yaitu mengucapkan, "Assalamu 'alaikum wa rahmatullah."


Dianjurkan mengangkat kedua tangan pada tiap kali takbir, karena adanya keterangan tentang itu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Do'a Ziarah Kubur

Di antara do'a berziarah kubur adalah,


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمِ مُؤْمِنِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ
“Keselamatan semoga terlimpah kepada kalian, penghuni (kubur) kaum mukminin, dan insya Allah kami semua akan menyusul kalian." (HR. Muslim)

Catatan:
§  Ziarah kubur disunnahkan bagi kaum laki-laki bukan bagi wanita dengan tanpa melakukan safar, tujuannya untuk mengambil pelajaran (mengingat mati) dan mendo'akan orang yang telah meninggal dunia.
§  Menshalatkan mayit dapat dilakukan di dalam masjid atau di tanah kosong, dan disyari'atkan bagi laki-laki dan perempuan.


Demikian semoga salawat dan salam Allah subhanahu wata’ala limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Sumber: "Ad Durus al-Muhimmah li 'aamatil Ummah, Shifat Shalatil Mayit," Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz

Syaikh Amad al-Hudzail

Friday, 11 July 2014

Materi Ujian Taekwondo


MATERI UJIN TAEKWONDO SABUK APUTIH (GEUP 10)



1.      Pukulan (Jireugi)
Juchum seogi momtong jireugi  (kuda-kuda tengah pukulan ke tengah)
 Ap uro Oreun/wen(oen) Ap koobi momtong bandae jireugi (maju kaki kanan/kiri dengan  kuda-kuda panjang diikuti dengan pukulan yang sejajar dengan kaki yang ada di depan)
 Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi momtong baro jireugi (maju kaki kanan/kiri dengan kuda-kuda panjang diikuti dengan pukulan yang  berlawanan dengan kaki yang ada di depan)
Istilah-istilah :
          Oreun (kanan)
          Wen/oen (kiri)
          Bandae (sejajar)
          Baro (berlawanan)
          Dubon jireugi (pukulan 2x)
          Sebon jireugi (pukulan 3x)
          Ap uro (maju)
          Dwi ro (mundur)
          Dwi ro dora (berputar/berbalik arah)
2.      Tangkisan (Makki)
          Arae makki (tangkisan dari atas ke bawah)
          An makki (tangkisan dengan lengan bagian luar dari luar ke dalam)
          Bakkat palmok (tangkisan dari dalam ke luar dengan lengan bagian luar,  kepalan tangan menghadap keluar)
          An palmokk (tangkisan dari dalam keluar dengan lengan bagian dalam, kepalan tangan menghadap ke dalam)
          Eolgol makki (tangkisan dengan lengan bagian luar dari dawah ke atas)
Tangkisan tangan bersamaan dengan  maju dan mundurnya kaki (Ap uro dan Dwi ro)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi arae makki (maju kaki kanan/kiri diikuti dengan tangkisan dari atas ke bawah)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi bakkat palmok momtong bakkat makki (maju kaki kanan/kiri diikuti dengan tangkisan lengan bagian luar dari dalam keluar, kepalan tangan menghadap ke luar)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi eolgol makki(maju kaki kanan/kiri diikuti dengan tangkisan lengan bagian luar dari bawah ke atas)
3.      Tendangan (Chagi)
          Ap chagi (tendangan ke depan)
          Dollyo chagi (tendangan melingkar (posisi badan menghadap agak  ke samping) menendang dengan punggung kaki)
          Deol o chigi (tendangan dari atas ke bawah (cangkul)
4.      Poomse
          Kibon arae makki
5.      Fisik
          Scout jump (10x)
          Push up (10x)
          Sit up (10x)
MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK KUNING (GEUP 9)
1.      Pukulan (jireugi)
          Juchum seogi dubon/sebon momtong jireugi (kuda-kuda tengah pukulan ke tengah 2x/3x)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi momtong bandae jireugi (maju kaki kanan/kiridengan kuda-kuda panjang diikuti dengan pukulan yang sejajar dengan kaki yang ada di depan )
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi momtong baro jireugi (maju kaki kanan/kiri dengan kuda-kuda panjang diikuti dengan pukulan yang berlawanan dengan kaki yang ada di depan)
2.      Tangkisan (makki)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi arae makki (maju kaki kanan/kiri dengan kuda-kuda panjang diikuti dengan tengkisan dari atas ke bawah)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi eolgol makki (maju kaki kanan/kiri dengan kuda-kuda panjang diikuti dengan tangkisan lengan bagian luar dari bawah ke atas)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi bakkat palmok momtong bakkat makki (maju kaki kanan/kiri dengan kuda-kuda panjang diikuti dengan tangkisan lengan bagian luar  dari dalam keluar , kepalan tangan menghadap ke luar)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi bakkat palmok momtong makki (maju kaki kanan/kiri diikuti dengan tangkisan lengan bagian luar dari luar ke dalam)
3.      Tendangan (Chagi)
          Yeop chagi (tendang samping dengan menggunakan pisau kaki)
          Ap miro chagi (tendangan mendorong ke depan)
          Ap hurigi (tendangan mengait ke depan)
4.      Kombinasi tendangan
          Ap chago dollyo chagi
          Dollyo chago deol o chigi
          Deol o chigo dollyo chagi
5.      Poomse
          Kibon momtong bakkat makki
6.      Hanbion jireugi (satu kali serangan dengan pukualan, kemudian  satu kali patahkan) dan sambion kyoruki (semi figh 3x serangan, kemudian serangan balik 3x (memakai tendangan kombinasi) dilakukan secara bergantian)
7.      fisik
          scout jump (15x)
          push up (15x)
          sit up (15x

MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK KUNING STRIP HIJAU (GEUP 8)
1.      Pukulan (jireugi)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi momtong jireugi
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi momtong baro jireugi
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi dubon jireugi
2.      Tangkisan (makki)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi arae makki
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi eolgol makki
-          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi bakkat palmok momtong bakkat makki
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi bakkat palmok momtong makki
3.      Kombinasi gerakan
          Ap uro oreun/wen(oen) ap koobi arae makko momtong baro jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi eolgol makko  mommtong baro jireugi
4.      Tendangan (chagi)
          Yeoup hurigi
          Betta dollyo chagi
          I dan ap chagi
         I dan dollyo chagi
          Dwi chagi
5.      Kombinasi tendangan
          I dan dollyo chago dollyo chagi
          Dollyo chago dwi chagi
          I dan ap chago dollyo chago dwi chagi
6.      Poomse
          Taegeuk il jang
7.      Hanbiyon jireugi dan sambiyon kyoruki
8.      Step 1 dan step 2
9.      Fisik
          Scout jump (18x)
          Push up (18x)
          Sit up (18x)

MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK HIJAU (GEUP 7)
1.      Pukulan (jireugi)
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi momtong jireugi
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap seogi momtong baro jireugi
          Ap uro Oreun/wen(oen) ap koobi dubon jireugi
2.      Tangkisan (makki)
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi arae makki
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi eolgol makki
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi bakkat palmok momtong bakkat makki
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi bakkat palmok momtong makki
3.      Kombinasi gerakan
          Ap uro oerun/wen(oen) ap seogi arae makkoap chago ap koobi eolgol bandae jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi arael makkoap chago momtong bandae jireugi
4.      Tendangan (chagi)
          Yeoup hurigi
          Betta dollyo chagi
          Dwi hurigi
          Nare chagi
          Dwi chagi
5.      Kombinasi tendangan
          I dan dollyo chago bal ba kuo  dollyo chago dollyo chagi
          Dollyo chago dwi hurigi
          Nare chago dwi chagi
6.      Poomse
          Taegeuk 2 jang (ijang)
7.      Hanbiyon jireugi
8.      Semi sparing (kontrol power)
9.      Step 3 dan step 4
10.  Fisik
          Scout jump (18x)
-          Pesh up (18x)
-          Sit up (18x)

 MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK HIJAU STRIP BIRU (GEUP 6)
1.      Pukulan (jireugi)
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi momtong jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi momtong baro jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap koobi dubon jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi eolgol sonnal mok chigi (maju kaki kanan/kiri diikuti sabetan kearah leher dengan pisau tangan)
2.      Tangkisan (makki)
          Ap uro oreun/wen(oen) ap koobi an palmok momtong bakkat makki
          Ap uro oreun/wen(oen) dwi koobi han sonnal momtong bakkat makki(majumkaki kanan/kiri dengan tangkisan satu pisau tangan)
3.      Kombinasi gerakan
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi ap chago arae makko momtong baro jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) ap seogi arae makko ap chago momtong baro jireugi
          Ap uro oreun/wen(oen) dwi kubi han sonnal momtong bakkat makko ap koobi momtong baro jireugi 
4.      Tendangan (chagi)
          Yeop hurigi
          Ap miro chagi
          Dwi hurigi
          Mad bada chagi (tendangan mengcounter, dollyo dengan menggunakan kaki belakng)
          I dan yeop chagi
5.      Kombinasi tendangan
          I dan dollyo chagi betta chagi
          I dan dollyo 1 step maju dwi hurigi
          Step 3 dwi chagi
6.      Poomse
          Taegeuk 3 (samjang)
7.      Hanbiyon jireugi
8.      Semi sparing
9.      Step 3 dan step 4
10.  Fisik
          Scout jump (20)
          Push up (20x)
-          Sit up (20x)

MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK BIRU (GEUP 5)
1.      Pukulan (jireugi)
1.Oreun/Wen(oen)  ap koobi deung jumeok eolgol ap chagi
2.oreun/wen(oen) ap koobi Pyeonsonkeut sewo jireugi
3.Oreun/wen()oen Ap koobi jebipoom Mok Chigi
2.      Tangkisan (makki)
1.oreun/wen(oen) dwi koobi Sonnal godeuro makki
2.oreu/wen(oen) dwi koobi han sonnal momtong bakkat makki
3.      Kombinasi gerakan
1.ap uro oreu/wen(oen) ap koobi jebipoom mok chigo deung jumeok eolgol ap chgi
2.ap uro oreun/wen(oen) ap koobi bakkat palmook momtong makko dubon jireugi
4.      Tendangan (chagi)
1.dolkek chagi
2.twieo ap chagi
3.twieo dwi chagi
4.idan nare
5.i dan yeop chagi
5.      Kombinasi tendangan
1.dolkek chagi bal bakuo dolkek chagi
2.1 step dolkek chago dwi chagi
3.idan ap hurigi dollyo chago dwi chagi
4.i dan nare chago nare chagi
6.      Poomse
1.taegeuk sa jang (4)
7.      Hanbiyon jireugi
8.      Step 4 dan step 5
9.      Kyoruki (pertarungan menggunakan body protector)
10.  Fisik
1.scout jump    : 25x
2.push up         : 25x
3.sit up                        :25x

MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK MERAH   (GEOUP 3)
1.      PUKULAN
Oreun/wen ap koobi sonnal bakkat chigi (kuda2 panjamg sabetan dari dalam keluar ke arah leher)
Oreu/wen ap seogi me jomeok naeryo chigi (kuda2 pendek gerakan sabetan kepalan (palu) dari atas ke bawah)
Bila dilakukan dengan aba2 berputar di lakukan dengan gerakan arae makki
2.      Tangkisan
 Oreun/wen ap koobi hansonnal biteuro makki (tangkisan dengan satu pisau tangan dilakukan dengan cara memutar)
 Oreun/wen ap koobi batngson momtong makki (tangkisan dengan telapak tangan dari luar ke dalam)
Bila dilakukan cara berputar maka disesuai dengan dengan tangkisan
3.      Kombinasi gerakan
  Oreun/wen ap koobi eolgol bakkat makko momtong baro jireugi
 Oreun/wen ap koobi batangson momtong makko momtong baro jireugi
4.      Tendangan
Nopi yeop chagi
 I dan dwi chagi
 I dan balko dwi chagi
Twieo dwi hurigi
5.      Kombinasi tendangan
I dan narae chagi dwi chagi
I dan up hurigo betta chagi mad badda chagi
I dan yeop hurigo dwi chagi
6.      Poomse
 Taegeuk 6
7.      Kyoruki
Menggunakan body protector
8.      Sambiyao matsuki
Semi sparing
9.      Kyopa (pemecahan papan (untuk dewasa minimal 2 cm))


MATERI UJIAN TAEKWONDO SABUK MERAH HITAM I (GEUP 2)

1.      Pukulan
 Juchum seogi yeop jireugi : pukulan dari samping ke arah tengah
Oreun/wen ap seogi eolgol bakkat chigi : gerakan sabetan kepalan tangan dari dalam ke luar
2.      Tangkisan
Oreun/wen dwi koobi sonnal goduero arae makki : tangkiasan dengan dua pisau tangan ke arah bawah
Oreu/wen ap koobi gawi makki : silang kombinasi dari arae makki dan an palmok mootong bakkat makki
Beom seogi bakkat palmok momtong makki : tangkisan dari luar ke dalam dengan kuda-kuda macan
3.      Kombinasi gerakan
Ap uro oreun/wen ap koobi momtong hecho makko an makko ap chago dubon jireugi : tangkisan silang ke luar, tendangan depan dilanjutkan dengan 2x ke tengah
Oreun/wen beom seogi batngson momtong an makko deung jumeok eolgol ap chigi : kuda-kuda macan tangkisan dengan telapak tangan pukulan sabetan ke arah wajah
4.      Tendangan
Nopi yeop chagi
I dan dwi chagi
I dan dwi hurigi
Pyojeok chagi
5.      Kombinasi tendangan
Pyojeok chagi dwi chagi
Pyojeok chagi dwi hurigi
Step 3 narae chago twieo dwi chagi
6.      Poomse (taegeuk 7)
7.      Kyoruki : pertarungan dengan menggunakan body protector
8.      Kyopa : pemecahan papan (untuk dewasa min 2 cm)

Fisik (disesuaikan usia) : scout jump (50 x),push up (50 x),sit up (50 x)


 MATERI UJIAN TAE KWONDO SABUK MERAH STRIP HITAM 2 (GEUP 1)

1.      Pukulan
Dwi koa seugi jecho jireugi : kuda menyilang ke belakng pukulan dengan kedua tangan secara berbarengan
Ap koobi dangkyo teok jireugi : pukulan ke rahang sambil menarik
2.      Tangkisan
Oreun/wen ap koobi  palmook godeuro momtong godeuro makki :  tangkisan dengan dua kepalan tangan dari dalam ke luar ke tengah
Oreun/wen ap koobi palmook goderou arae godeuro makki : tangjisan dengan dua kepalan dari dalam antara arae makki dan an palmook
-          Ap koobi we santeul makki : tangkisan kombinasi antara arae makki dan eolgol bakkat makki
-          Oreun/wen ap koobi etkeuro arae makki : tangkisan ke bawah dengan dua tangan menyilang
3.      Kombinasi gerakan
-          Ap uro oreun/wen ap koobi dubeon gawi makki : tangksan 2x silang kombinasi arae makki dan an palmook  momtong  bakkat makki
-          Oreun/wen dwi koobi  palmook godeuro makko wen ap koobi momtong baro jireugi : tangkisan 2 tangan mengepal dilanjutkan dengan pukulan yang berlawanan ke arah tengah
4.      Tendangan
Dobal dangsang ap chagi
Pyojeuk chagi
I dan dwi hurigi
Gyong yok dwi chagi
5.      Kombinasi tendangan
 Pyojeuk chago dwi chagi
Pyojeuk chago dwi hurigi
Step 3 narae chago twieo dwi chagi
6.      Poomse ( taegeuk 8 )
7.      Hanbion jireugi (ho sin sul)
8.      Kyopa (pemecahan papan (untuk dewasa minimal 2 cm))
9.      Perkelahian dengan cara keroyokan max 3 orang
10.  Fisik (disesuaikan usia)
Scout jump (50 x)
Push up (50 x)
Sit up (50 x)