Thursday, 17 July 2014

Sinopsis Film Serial Mahadewa,Kisah Cinta antara Mahadewa Shiwa dengan Dewi Sati



Sinopsis Film Serial Mahadewa,Kisah Cinta antara Mahadewa Shiwa dengan Dewi Sati

Renungan Bhagavatam: Daksha Putra Brahma, Keangkuhan Seorang Prajapati



Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.
Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan……. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke “aku”an. Kesadaran dan ke “aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke “aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke “aku”an, keangkuhan……..
Daksha kemudian mengambil air di dengan telapak tangannya dan mengutuk, “Mahadewa ini adalah yang terburuk di antara semua dewa, dia tidak akan menerima bagian yajna seperti dewa yang lain.” Dan Daksha langsung pulang ke rumahnya. Para pengikut Mahadewa tersinggung dan Nandikeswara berkata, “Daksha ini orang bodoh, ia sangat angkuh dan melupakan Mahadewa. Sesungguhnya ia bernasib sial, ia jauh dari rahmat Tuhan. Ia tidak lebih baik dari binatang yang hidup hanya untuk kepuasan laparnya. Para resi yang setuju dengan kutukan Daksha akan menderita. Mereka akan mengalami siklus kelahiran dan kematian. Mereka akan disibukkan dengan urusan duniawi dan meninggalkan Tuhan. Mereka akan terlibat dalam banyak upacara agama, mereka akan kehilangan cinta mereka terhadap disiplin, tapa. Mereka akan menjadi peka terhadap bujukan pikiran dan juga terhadap ketidaktahuan sehingga mereka terlibat dalam hal-hal duniawi.”
Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk, “Aku mengutuk para pengikut Mahadewa, mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka akan menentang Veda dan tidak aktif dalam upacara yang ditentukan oleh Veda. Mereka menjadi kotor. Mereka berpakaian seperti Mahadewa, memakai perhiasan yang dibuat dari tulang.”……. Mahadewa merasa sedih dan segera meningglakan tempat upacara tersebut.
Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksa semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadewa, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sava. Semua brahmaresi, dewaresi, pitri dan dewa diundang pada upacara tersebut. Rupanya dalam diri Daksha masih ada perasaan dendam terhadap Mahadewa. Daksha tidak sadar bahwa dirinya semakin terikat kepada penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Daksha tidak tahu alasannya mengapa Mahadewa tidak berdiri dan menghormatinya. Daksha gelisah mengapa Mahadewa, sang menantu bertindak demikian. Oleh karena itu dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadewa.
Dalam buku “Tantra Yoga”, Anand Krishna, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Dalam tantra, kita mengenal istilah Klesha, yang berarti “kegelisahan”, “penderitaan”. Apa saja yang membuat manusia gelisah, menderita klesha. Dan menurut Tantra, ada lima penyebab klesha, yaitu: Pertama, Avidya atau ketidaktahuan. Kita tidak tahu bahwa api bisa membakar. Lalu memasukkan tangan ke dalam api. Maka tangan kita terbakar, luka. Dan kita pun menderita, gelisah. Kedua, Asmita atau ego, keangkuhan. Kita menganggap diri sudah hebat, sempurna. Selalu benar. Kemudian ada yang menegur, “Jangan sombonglah. Lihat tuh kesempurnaan ada di mana-mana. Bukan kamu saja yang hebat. Kebenaran pun bukan monopoli seseorang.” Ego kita terusik. Kita tidak bisa menerima kenyataan dan oleh karena itu, kita gelisah, menderita. Ketiga, Raga atau keterikatan. Sudah terlalu sering kita membicarakan keterikatan. Keterikatan pada apa saja, siapa saja hanya menghasilkan kegelisahan, penderitaan. Keempat, Dvesha. Yang satu ini agak sulit diterjemahkan. Dvesha berarti non affirmation. Tidak mengiyakan Keberadaan. Kebalikan sikap nrimo. Dvesha berati tidak mengalir bersama kehidupan. Menentang arus kehidupan. Menentang keberadaan. Dvesha berasal dari suku kata “Dvi” dwi, dualitas. Salah satu kamus Sanskerta-Inggris menerjemahkan dvesha sebagai “kebencian”. Bisa. Kendati bukan sekedar kebencian. Kebencian muncul dari penolakan. Kita tidak menyukai sesuatu, maka kita membencinya. Ada alasan untuk tidak menyukai. Dan alasan itu disebabkan oleh double vision, oleh mata batin yang “sakit”, sehingga “satu” tampak “dua”. Ada yang kehilangan pasangan, pacar, dan dia tidak bisa menerima kenyataan. Maka dia gelisah, menderita. Sikap menentang, menolak dan tidak menerima itulah Dvesha. Kelima, Abhinivesha, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai clinging to life. Ini salah. Seharusnya adalah clinging to body atau lebih tepat lagi clinging to body consciusness. Bila anda cling, berpegang teguh pada life atau kehidupan, anda tidak akan gelisah, tidak akan menderita, karena Kehidupan adalah Keberadaan. Berpegang teguh pada Kehidupan berarti menerima Kehidupan secara utuh. Menerima suka dan duka sebagai bunga-bunga Kehidupan. Demikian Anda akan selalu bahagia………
Sati mendengar upacara Yajna yang akan diselenggarakan ayahandanya minta ijin suami untuk menghadiri upacara tersebut, “Aku tahu Kau adalah Tuhan yang mendaur ulang alam semesta. Akan tetapi aku adalah seorang perempuan yang ingin datang ke upacara yang diadakan ayahandaku. Aku tahu Kau akan berkata bahwa kita tidak diundang. Akan tetapi bukankah orang baik akan datang walaupun dia tak diundang untuk datang ke rumah seseorang?
Mahadewa tersenyum dan berkata, “Orang selalu berubah, dia memang ayahmu, akan tetapi ayahmu menjadi sangat angkuh. Ia mabuk kekuasaan. Ayahmu memiliki kualitas agung dalam hal pengetahuan, tapa, kekayaan, keindahan badan, usia dan kelahiran mulia. Semua kualitas ini jika terdapat dalam orang yang baik akan menjadi berkah alam semesta. Bagaimana pun ayahmu telah menjadi sombong karena memiliki semua itu. Seseorang yang berkata bahwa aku pandit, terpelajar, aku tapasvi, pertapa, pemikiran seperti ini sudah membuat dia sombong. Dan, ayahmu tidak rela dengan kebesaran-Ku.”……… “Ayahmu lebih mencintai kau dibanding kepada saudari-saudarimu. Akan tetapi dia membenci diriku. Sehingga dia tidak akan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang seperti yang kau harapkan. Kamu mungkin belum tahu mengapa aku tidak berdiri kala ayahmu masuk ketempat upacara Yajna. Manakala seseorang berdiri dan melakukan namaskara, kedua tangan ditangkupkan kepada orang lain, maka di dalam hati orang tersebut berkata, Gusti dalam diriku sedang menyambut Gusti yang berada dalam dirimu. Dan Gusti dalam diriku adalah Gusti yang sama dengan yang ada dalam dirimu. Rasa hormat tidak diberikan kepada manusia, kepada tubuh yang dipakai manusia, tetapi kepada Gusti yang ada dalam diri setiap orang. Hanyalah ayahmu yang berpendapat bahwa mereka menghormati dirinya. Aku tidak bisa melakukan itu. Manakala manusia baik menemui orang lain yang penuh ego, maka ego tersebut seperti awan yang menutupi Gusti yang ada dalam dirinya. Itulah sebabnya aku tidak berdiri dan menghormatinya, agar dia menyadari kesalahannya yang dengan angkuh merasa orang menghormatinya dan bukan menghormati Gusti yang berada dalam dirinya.”…….. “Dulu , manakala ayahmu meremehkan aku dan berbicara tajam menghina aku di hadapan semua orang, dan aku tidak diberi bagianku dalam upacara tersebut, dia memang ayahmu akan tetapi dia adalah musuhku. Demikian pula para pengikutnya. Jika kamu mengabaikan perkataanku dan ingin datang ke upacara tersebut, kamu tidak akan disambut oleh mereka. Kamu bukan lagi anaknya, tetapi kamu adalah istri dari Mahadewa.”
Dalam diri sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memenangkan perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Tak seorang pun yang berani mengingatkan Daksa, dan tak seorang pun yang datang menyambut Sati. Hanya ibu dan sudari-saudarinya yang menyambutnya dengan pelukan. Daksha melakukan Yajna sebagai persembahan kepada Tuhan, akan tetapi dia tak sadar bahwa dia masih mempunyai rasa kemarahan dan keangkuhan terhadap Mahadewa. Rasa kemarahan dan keangkuhan adalah rasa bahwa dirinya besar, padahal melakukan persembahan mestinya dilakukan dengan tulus ikhlas dan menjadikan diri kita seperti seorang kawula di hadapan Majikan Agung.
Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita. Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa.
Demikian beberapa kutipan dari buku-buku Bapak Anand Krishna yang membangkitkan semangat seseorang untuk memberdayakan diri. Sayang pemahaman beliau sering disalahpahami. Silakan lihat…..

Sati sadar bahwa Yajna ini ditujukan untuk menghina Mahadewa. Dengan bibir gemetar menahan kemarahannya Sati berkata, “Seorang bodoh seperti ayahanda memusuhi Tuhan yang tak ada bandingnya di alam semesta ini. Hanya orang bodoh yang melakukan hal ini. Makin baik seseorang maka mereka mengabaikan kesalahan dan mempertimbangkan kebaikan orang lain. Perilaku ayahanda tidak mempengaruhi suamiku, akan tetapi aku tidak bisa menerima itu. Suamiku disebut Shiva, segala sesuatu yang murni, baik dan suci. Ayah membencinya karena ayah adalah asiva. Aku malu badanku ini berasal dari ayahanda penghina Shiva. Aku tidak ingin dikenal sebagai Dakshayani, putri Daksha di alam selanjutnya. Badan ini cukup lama dipakai diriku dan sekarang kulepaskan. Sati duduk dalam posisi yoga dan badannya mulai terbakar api yang dipanggilnya. Sati menjadi abu.
Para pengawal Sati menyerang Daksha, akan tetapi Bhrigu tidak ingin orang merusak upacara dan segera membaca mantra. Dan, dari api persembahan keluar makhluk yang menghalau para pengawal Sati. Resi Narada mendatangi Mahadewa dan menceritakan apa yang terjadi pada Sati. Mahadewa tidak terkejut karena dia telah tahu apa yang akan terjadi. Shiva kemudian mencabut rambutnya dan melemparkannya ke tanah dan rambut itu berubah wujud menjadi Virabhadra makhluk tinggi besar yang menyala-nyala. Ia mempunyai seribu lengan dan memakai kalung tengkorak seperti Shiva. Dia melakukan perintah Shiva untuk membunuh Daksha dan menghancurkan segalanya di sana. Bhrigu yang mengutuk pengikut Mahadewa dicabut kumisnya oleh Virabhadra. Pusan yang mengetawakan Shiva giginya semua lepas karena pukulan Virabhadra. Bhaga yang telah menghasut Daksa untuk mengabaikan Sati matanya dihancurkan. Daksha akan dipancung tetapi tidak bisa dan Virabhadra sadar bahwa hal tersebut terjadi karena Daksha sedang mengadakan Yajna. Maka kepala Daksha dilepas dengan tangannya dan dilemparkannya ke api sebagai persembahan. Setelah itu Yirabhadra dan pengawal Shiva kembali ke Kailasha.
Mereka yang selamat menceritakan bencana yang menimpa mereka kepada Brahma. Brahma dan Wisnu tidak hadir dalam acara Yajna karena mereka tidak akan hadir dalam upacara yang tidak dihadiri oleh Mahadewa. Brahma kemudian minta mereka supaya minta ampun kepada Mahadewa. Mahadewa telah diperlakukan secara tidak adil, dan Sati mati karena Daksha. Brahma berkata jika Shiva tetap marah dunia akan berakhir. Brahma kemudian mendatangi Shiva di Kailasha. Shiva berkata, “Aku tidak marah dengan mereka yang mengambil bagian dalam Yajna, aku hanya ingin menghukum Dakhsa. Ia harus diobati kesombongan dan keangkuhannya. Kata-kata kutukan Nandikeswara tak dapat dibatalkan. Daksha akan hidup lagi dengan kepala kambing. Pikiran Daksha akan dibersihkan dan yang terpisah akan utuh kembali.”
Mereka semua bersama Wisnu dan Brahma datang ketempat Yajna. Daksa mau berkata akan tetapi suaranya berhenti di kerongkongan. Air matanya mengalir bukan karena kepalanya sudah berganti dengan kepala kambing, akan tetapi dia ingat akan kematian Sati…….. Akhirnya Daksha bisa bicara dengan patah-patah, “Aku telah menghina-Mu dan dunia berpikir Engkau sudah menghukum aku untuk itu. Akan tetapi pada kenyataannya Engkau telah membersihkan pikiranku, Engkau sudah memberikan aku kelahiran baru. Aku sudah bisa menggunakan tubuhku dengan lebih baik. Aku mohon ampun kepada-Mu.”……… Yajna dilanjutkan dan ketiga dewa mengetuai upacara tersebut. Narayana juga berkenan menampakkan diri….. Kita bisa melihat secara simbolis bahwa kesalahan Daksha adalah keangkuhan disebabkan pemahaman pikirannya yang salah. Oleh karena itu, Mahadewa menghilangkan sifat keangkuhan Daksha, yang digambarkan dengan mengganti kepala yang angkuh dengan kepala kambing yang patuh……..
Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Sebagaimana seorang ahli pahat dapat mengubah kayu gelondongan menjadi sesuatu yang sangat berguna, begitu pula para bijak dapat mengubahmu menjadi pemimpin yang berguna, dan berperilaku sesuai dengan Tao. Apabila Anda polos dan masih gelondongan, seorang bijak dapat mengubah Anda menjadi pemimpin yang berguna. Metafor yang digunakan oleh Lao Tze: kayu gelondongan. Seorang ahli pahat tidak pernah menambah sesuatu. Yang dia lakukan hanyalah membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan, dan hasilnya adalah patung yang indah, peralatan rumah tangga yang berguna. Itu pula yang dilakukan oleh para bijak. Mereka tidak menambah sesuatu pada diri kita. Tidak diberikan jimat atau dibacakan mantra atau disuruh mengorbankan hewan. Mereka hanya membuang bagian-bagian yang tidak penting dalam diri kita. Mereka membuang naluri hewani yang ada dalam diri kita. Keangkuhan, ketamakan, keserakahan-semua itu yang dibuang. Dan lahirlah seorang insan yang baru, seorang pemimpin yang bertindak sesuai dengan hukum alam……..
Sumber:http://triwidodo.wordpress.com/2011/06/22/renungan-bhagavatam-daksha-putra-brahma-keangkuhan-seorang-prajapati/

No comments:

Post a Comment